Thursday, September 20, 2007

http://majalah.dompas.net/?p=3#comment-4

3 Responses to “Pelarian Demi Sehelai Sajadah”
aa-eman on September 20th, 2007 9:36 am

Subhanallah. Terima kasih neng Wiwik. Aa sungguh terpesona akan sekelumit kisah sehelai Sajaddah ini. Semoga karedoan neng menapaki pahit getirnya di tanah pangumbaran, akan beroleh barokah Illahiah. Kan seperti kata pepatah, “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri. Lebih baik hujan emas di negeri sendiri.” Meskipun resikonya gak bisa jalan2 ke Malaysia. Tak usah lah gamang, dimana mana rezeki mah Allah SWT pisan yang Maha Atur.
Alhamdulillah, ternyata orang Kuningan pada shalat ya. Tak semua preman lah.
admin on September 20th, 2007 10:11 am

Gimana tu preman kuningan? Salut buat neng Wiwik. Banyak lho saya lihat orang Islam jadi pembantu rumah untuk orang bukan Islam. Mereka tidak boleh solat. Tapi karena sesuap nasi, agama tergadai. Tampaknya kerajaan malaysia dan pemerintah RI harus membuat peraturan untuk pembantu rumahtangga yang beragama Islam ini.
aa-eman on September 20th, 2007 7:45 pm

Sssttt, ini mah sembang sembang di warungkopi yang ditelantarkan itu ya. Sebetulnya di tanah air nya juga banyak tuh sosok seperti Wiwik yang lama2 tegadaikan agamanya buat mengejar angan2 memperbaiki kehidupan sosialnya. Sejujurnya, bekerja di tanah Melayu merupakan impian surgawi. Banyak yang berhasil kalau mereka bekerja di keluarga muslim. Masalah baru timbul kalau mereka bekerja di keluarga non muslim yang banyak menampil kan kisah2 sedih, tersiksa bahkan sampai ada yang diperkaos segala. Susahnya, buat ketersediaan pembantu rumah tangga ini lebih berorientasi kepada bisnis ekonomi akan ’supply and deman’. Jadi tetap saja menjadikan keterpurukan bagi pencari kerja. Contoh soal karakter Islami telah ditauladan kan oleh Cikgu Arina yang dengan tulus memanusiakan pembantu. Ini perintah Tuhan, katanya. Makanya tutur beliau menjadi halus cantik dan sejuk.

Got something to say?

No comments: