Sunday, March 12, 2006

Wanita impresif berambut jagung.


Sambil menunggu pembukaan acara Launching, audience dihibur oleh swara memukau dari Sundari Soekoco dan Intan. Siapa yang gak kenal sama Ndari yang spesialis Keroncong sejak tahun 1983 yang legendaris itu. Tapi Intan? Baru sekali ini aku menikmati lantunan suara lengking keremajaan yang luarbiasa ini. Salah satu lagu yang memukai adalah OST film kolosal Titanic yang biasa dilantunkan oleh Celine Dion. Bahkan Intan mampu melantunkan jauh lebih indah dibanding Celine Dion. Gak nyombong dah.
Manalagi pianist muda yang jemarinya sebegitu lengket dengan untaian nada2 memikat.
Tetapi ya itu, mataku kembali terhunjam kepada seleretan kalimat yang diuntai oleh penulis Atmadji Sumarkidjo yang kualitasnya luarbiasa itu. Halaman demi halaman berlalu, sampai aku merasa ada yang memperhatikan. Tatapan itu berasal dari sepasang mata bola seorang wanita impresif seusia 35 tahunan yang duduk disebelah kanan Ibu Aisyah Amini. Kulontarkan anggukan hormat kepadanya yang disambutnya dengan senyum manis. Wajahnya serasa tak asing bagiku, hehehe kayaknya banyak sekali wajah yang kukenal di audiensi ini yang umumnya bersumber dari layar kaca televisi Nasional.
Wanita cantik yang sikapnya tampak berbobot ini mengenakan busana gaun terusan brokat hitam kebiruan yang memperlihatkan garis dada yang elok dengan sembulan kelapa gading yang ranum. Gaunnya berujung 5cm-an dibawah lututnya yang gempal.
Dari warna giginya yang cantik agaknya beliau juga penikmat rokok. Sikapnya menunjukkan seorang yang easy-going dengan self-confidence yang tinggi. Telapak kakinya ditutupi dengan sepasang sepatu medium-heel sekira 7cm berujung dempak.
Yang ekspresif adalah warna rambutnya kuningjagung yang dibiarkannya lepas meriab.
Tampak beliau menghaturkan 2 lembar kartunama kepada ibu Aisyah dan pria pendamping disebelah kiri ibu. Posisiku terselang satu kursi dari sebelah kiri pria itu.
Mataku kembali menelusuri kepiawaian pengenaan bahasanya bung Atmadji.
Sayangnya aku kurang tanggap manakala kurasakan tatapan kedua. Aku hanya melontarkan seulas senyum kepadanya. Seharusnya aku berdiri, mungkin akan menghasilkan 2 lembar kartunamanya. Wanita itu lalu berdiri dan melangkahkan kakinya mengarah ke pintu keluar ketempat hidangan buffet digelar. Aku lalu kembali ke buku sambil menikmati lantunan suara Intan dan dentingan piano yang memukau. Dari layar CCTV tampak Intan memberikan pesan nada ke telinga pianist dibawah tatap mata keibuannya Ndari.
Kini aku merasakan tatapan berasal dari belakang kepala, seiring dengan langkah trengginas dari rambutjagung menuju ke gang-way jalam masuk ke tempatku duduk yang terhalang oleh Fahmi yang duduk diujungnya dengan kaki melebar karena lagi asyik membaca. Maaf, ditempat seperti itu aku mana berani bangkit buat "menegur" kaki Fahmi. Manatahu rambutjagung memang berkenan bagi aku untuk menyapa beliau.
Namun segera saja beliau kembali kekursi sebelah kiri ibu Aisyah Amini, setelah announcer membacakan susunan acara. Nantilah semoga ada kesempatan jumpa lagi.

Dan kesempatan itu datang setelah acara selesai saat aku langsung menuju gerbang keluar karena ingin merokok. Terrace tampak padat oleh para pejabat yang tengah menunggu datangnya mobil jemputan. Ketertundaanku untuk ke areal bebas rokok, membuatku malahan seperti para beliau yang tengah menunggu mobil jemputan meskipun tak pernah meminta bantuan panggil kepada personil Car-call sekalipun. Jaim aja dah.
Tampak rambutjagung tengah asyik berbincang dengan seorang pria muda yang dari gantungan ID nya agaknya insan pers. Tentunya dong aku memunggu giliran di posisi yang kalau rambutjagung melirik ke arah kiri aku dengan mudah akan ditemukannya.
Namun selengking klakson berkumandang, rambutjagung segera mengakhiri bincangnya dengan insan pers. Lalu bergegas ketempat sejenis Kijang abu2 metalik stand-by.
Sempat sih pandangannya menangkap kehadiranku yang sengaja kuposisikan agar beliau bisa menyimak disaat mau masuk ke mobil. Beliau memang tertegun sesaat sambil melepas senyum. Namun wujud indahnya segera berubah menjadi bayangan gelap dibalik kaca. Manakala beliau mengambil posisi duduk di jok belakang. Lalu mobil berlalu.
Seberlalunya kesempatan buat mengaktualisasikan diri di lingkungan yang samasekali baru bagiku. Sungguh, manusia punya bisa namun Allah SWT punya Kawasa. Laa hawlaa.

No comments: