Wednesday, March 08, 2006

Pohaci Oci.


Alhamdulillah. Kemarin saat makan siang, ternyata sari pohaci mojang Bandung itu hadir lagi setelah sekian lama gak tampak bersantap dengan nikmat di RM Khas Parahyangan. Penampilannya kali ini agak berbeda. Pakulitannya yang diawal February 2006 tampak memukau seperti hejo carulang itu, sekali ini tampak mani enay koneng langseb. Mana raksukannya juga berbeda kali ini mengenakan lancingan panjang berbahan seperti kaus putih dengan kaus tangan panjang yang ditutup dengan rompi tipis hijau kebiruan berfayet di belahan dadanya. Weleh sieneng mah tampak mani payus mulus gapuraning rahayu.
Padahal tampilan awalnya selama 2 hari berturut itu, bercelana panjang kuning dengan blus hitam yang ditutup dengan sari berwarna kembang rada gelap. Mana alas kakinya mengenakan sendal kulit berwarna kuning. Weleh lakadalah, mani matak moho nempo. Mana senyumnya itu lho nyaris mempesona mendekati senyumnya siajeng. Kayak poros Bandung-Pekalongan aja deh. Kok Bandung sih? Abah tahu nya sewaktu pamitan mau kembali ngantor salah satu temannya bilang, "Tararengkyu."
Hemmhhh gaya koboy Bandung. Tentunya dong abah tembak saja, "Aeh aeh, kutan Pasundan geuning?"
Ternyata justru neng pohaci yang menjawab, "Sumuhun bapak." Kituh sembari tertawa dengan apiknya.
"Haaarrr, eneng mah. Bapak ti Kuningan, dupi eneng kawit ti mana?"
"Abdi ti Bandung bapak." Jawabnya dengan halus sambil tertawa lucu herang kawas kaleci.
"Haturan eneng mugi sedep kana pasakan ki Sunda."
"Insyallah pak. Mangga bapak." Pamitnya. Lalu pohaci tampak bergegas karena hujan merintik.
Lenggangnya sungguh Bandung punya, sambil membungkus bahunya dengan sari.
Nyata pintar mojang itu dan surti akan busana yang patut dalam cuaca yang sejuk begini.
Alhamdulillah besok harinya datang lagi bersama 7 teman2nya seperti kemarin dulunya.
Sekali ini selesai mmakan sieneng pohaci tampak merokok terbatuk batuk.
Weleh matak tampil semakin lucu merak ati aja dianya membuatku olohok ngembang kadu.
Tapi karena ada panggilan ke warnet, kali ini kami gak sampai saling sapa.

Kemarin siang mah lain lagi. Selagi beliau makan yang tampak camuil sembari menikmati lalaban terutama irisan tomat bersama 4 orang temannya di meja #2. Abah duduk di meja #3 bersama kang Ajat sambil mengobrolkan kemungkinan Ade bisa magang atau main kle kantor PT PIKE biro iklan.
Tapi daek medu, abah gak bisa nahan emosi naha bet mata teh anteb neuteup ka pohaci ti sanggul dugi ka sepatu kenipnya yang berwarna putih. Wah, masih payusan waktu make sendal kulit kok.
Sampai abah malu sendiri, ternyata teman putrinya menyadari klo abah rajin menatapi pohaci.
Abah lalu bangkit mendekati meja kasier manatahu Wawan perlu bantuan, karena sesiang itu tamu cukup padat. Diantaranya rombongan 8 orang teh Neni, dari kantor Walikota Jakarta Pusat.
Gak lama pohaci berdiri lalu mendekati meja kasier untuk mengulang pelajaran berhitung.
Pohaci mendekati abah yang lagi berdiri bersama kasier. Lalu abah sapa aja, "Dupi eneng damang?"
Pohaci menjawab, "Saya minum THM dan pepes peda."
"Sanes eneng. Tadi bapak tumaros, dupi eneng damang?"
"Aih bapak hapunten abdi. Alhamdulillah abdi sehat. Geuning tiasa Sunda?"
"Har kapan bapak ti Kuningan. Eneng ti Bandung. Terang teh kapungkur waktos eneng tuang didieu sasasih anu atos. Namung geuning tos lami eneng tara tuang didieu."
"Ooohhh. Abdi sering kadieu namung bapak wae anu jarang katingal." Tawanya dengan cantiknya.
"Dupi eneng parantos lami damel di Femina?"
"Nembe lebet ayeuna, saatos abdi teu damang saminggu."
"Haaarrr, kasawat naon eneng teh?"
"Aya kista. Tapi tos diangkat."
"Dina rahim?"
"Sumuhun."
"Sing enggal damang. Namung eneng oge rupina sesah kulem. Seueur emutan itu ieu."
"Geuning bapak uninga?" Belalaknya dengan indahnya.
"Sakatingal bapak, eneng oge aya gangguan maag. Tekanan darah rendah. Sering lieur."
"Aih mani leres pisan bapak. Kumaha bapak tiasa uninga?"
"Katingal tina pameunteu eneng." Tadinya sih mau ditekan tepi tangan kirinya untuk memastikan gangguan pada waktu datang bulan. Tapi kayaknya kurang tepat karena neng pohaci juga tampaknya akan segera kembali ngantor.
"Punten dupi kakasih eneng?"

"Abdi Oci pak." Senyumnya seraya membuka dompet. Padahal bonnya belum ditulis.
Mungkin apal saja menurut data harga di menu. Tapi ternyata beliau memberikan kartu nama.
Tertulis namanya Sari Kurnia, Marketing Excecutive.
"Punten eneng, bapak seepeun kartu nami." Eskyusku seraya menuliskan nama dan notel diatas secuil kertas buram buat menghitung awal bon. Tapi neng pohaci menerimanya sambil tersenyum.
"Bapak oge konsultan masalah gangguan emosi neng."
"Janten abdi tiasa konsul ka bapak." Senyumnya dengan apik.
"Kantenan eneng. Mangga taroskeun bapak manawi eneng peryogi iraha bae. Langkung sae upami nelepon boh sms heula bilih bapak nuju suwung ambeh tiasa sayagi ngarawat eneng."
Di kartunamanya sudah tertulis no hp, namun dituliskannya juga nomer Flexy nya.
"No hp mung kanggo urusan kantor pak. kanggo pribados anggo nomer ieu wae." Senyum irutnya lagi.
Akhirnya neng pohaci pamitan setelah membayar 15ribu buat pepes, nasi dan teh hangat manis.
"Mangga eneng. Hatur nuhun bingah tepang." Senyumku melepasnya kembali ke Femina Group.

Siangnya aku tulis sms, sekalian nguji itu nomer Flexy Jakarta atau Bandung. Kucoba dengan 021.
"Haturan neng Oci. Bingah tiasa tepang deui. Manawi neng peryogi konsul mangga wartosan pun Wandi di 3190-7730 bade iraha bae. Sing sehat sukses lugina. Wassalam, emanrais."
Alhamdulillah dijawab langsung, "Sami2 bapak." Ternyata Flexy Jakarta.

No comments: