Wednesday, January 25, 2006

Batik Pekalongan

Minggu, 18 September 2005

Dari Pekalongan dengan Batik

Kendati punya keunggulan, batik pekalongan justru 'tak terdengar'.

Warna-warna cerah dan motif beragam. Dengan keduanya, batik Pekalongan bergerak cepat. Berbeda dengan batik Solo dan Yogya, batik Pekalongan terlihat lebih dinamis lantaran permainan motif yang lebih bebas. Kebebasan itu terasa ketika hadir motif batik untuk kalangan penggemar otomotif. Ada kain batik Volkswagen, Jeep, atau batik yang dibuat khusus untuk klub otomotif lainnya.

Rusdiyanto, pemilik Gama Collection, mencipta motif kipas asmara. Di atas kain mori halus, motif indah yang berpadu dengan warna cerah itu terlihat pas untuk pakaian santai para remaja.

Tak hanya motif, batik-batik Pekalongan juga unjuk gigi lewat keberanian bermain warna. Para penggemar batik menyebut warna batik pekalongan ngejreng. Tanpa warna yang berani, boleh dibilang batik pekalongan bakal kehilangan rohnya. ''Sebagai batik yang berkembang di luar lingkup istana (Solo dan Yogya), warna yang dibuat oleh perajin cenderung terang,'' ujar Usman, pengusaha batik asal Buaran, Pekalongan.

Karena warna 'berani' itu juga, batik pekalongan mendapat 'berkah'. Mereka bisa lebih berkembang di dunia mode.

Ini juga yang terlihat saat Festival Batik Pekalongan yang berlangsung 15-18 September di kota pesisir utara Jawa Tengah ini. Aneka busana Muslim, kerudung, pakaian santai dan resmi tampil mengikuti tren. Tentu saja tetap dengan batik. ''Kita selalu mengikuti selera pasar dalam membuat gaun Muslim dengan bahan dasar batik,'' kata Romi Oktabirawa, ketua panitia Festival Batik Pekalongan.

Industri tekstil di Pekalongan sendiri cukup unik. Ternyata, batik bukan monopoli Kota Pekalongan. Warga di Kabupaten Pekalongan juga ikut menggeluti batik dan mereka terbagi di beberapa sentra. Sentra utama di kabupaten adalah Pekajangan, Kecamatan Kedungwuni, Tirto, dan Buaran. Sedangkan di Kota Pekalongan, sentra batik berada di daerah Medono, Setono, Pabean, dan Pasirsari.

Geliat batik pekalongan kini tidak hanya di dalam negeri. Mereka siap bergerak hingga ke mancanegara. Setidaknya ini terlihat dari banyaknya permintaan batik dari luar negeri. Pebisnis Amerika, Belanda, dan negara-negara di Eropa sudah lama berhubungan dengan pengusaha batik pekalongan.

Salah satu daya tarik asing terhadap batik pekalongan adalah lantaran perajin lebih terbuka dalam menerima pesanan. Misalnya saja, permintaan motif batik yang langka dapat saja dipenuhi.

Belum lagi media kain yang bisa bermacam-macam. Tidak hanya pada bahan katun, tetapi juga pada bahan kaos. Batik pada bahan baku kaos terlihat unik dan menjadi incaran buyer di Eropa, khususnya Belanda. Bahan baku sutra juga menjadi andalan batik Pekalongan untuk bersaing di luar negeri. Motif jlamprang, sekarjagat, atau motif khas lainnya, menjadi berkelas ketika dituangkan dalam bahan baku sutra.

Dengan keindahan itu dan kualitas baik, tidak aneh bila akhirnya harga batik sutra pekalongan melambung hingga mencapai jutaan rupiah. Sayangnya, kini perajin batik pekalongan tengah gundah. Perekonomian dalam negeri yang tidak stabil membuat mereka sering tertimpa masalah. Soal harga bahan baku kain atau bahan pewarna yang tiba-tiba melonjak cukup membuat mereka resah.

Meski begitu, mereka agaknya tidak hilang gairah untuk terus berkarya membuat batik-batik indah dan berkualitas. Paling tidak, semua inilah yang tampak dari Festival Batik Pekalongan.


Minim Promosi

Iwan Tirta. Namanya boleh dibilang berirama dengan kain-kain batik. Karyanya sempat dipakai para kepala negara ketika mengikuti sidang APEC 1994. Ratu Sirikit dari Thailand juga pernah mengenakan kain batik hasil rancangan pria bernama lengkap Nusjirwan Tirtaamidjaja ini.

Kecintaannya pada batik membuat Iwan akrab dengan aneka batik Tanah Air. Salah satunya adalah batik pekalongan. Iwan berkisah, batik untuk gaun sang ratu itu juga dari Pekalongan dengan bahan baku sutra.

Dipilihnya batik Pekalongan adalah karena corak warnanya yang terang. Batik pekalongan dianggap unik lantaran warna-warnanya itu. Untuk mereka yang berkulit terang, batik pekalongan lebih pas dikenakan. Di kalangan perancang busana, batik corak terang selalu menjadi incaran.

Sayangnya, ketika sebuah gaun batik muncul, malah nama batik yogya atau solo yang mencuat. ''Pokoknya rugi, Pekalongan tidak disebut-sebut,'' kata pria kelahiran Blora pada 18 April 1935 ini.

Perajin Pekalongan juga, kata Iwan, terlalu asyik memproduksi tanpa berkomunikasi dengan masyarakat konsumen. Hal ini menjadikan batik Pekalongan justru tidak dikenal walau sebenarnya dipakai orang.

Usaha berpromosi pun minim dilakukan. ''Sangat dimaklumi jika perancang besar yang memakai batik pekalongan tidak menyebutnya sebagai batik produk Pekalongan karena memang tidak tahu,'' kata Iwan.

Karena itulah Iwan menganggap ajang Festival Batik Pekalongan sangat penting untuk lebih memopulerkan batik khas Pekalongan.
(aja )

1 comment:

JAVASUGAR said...

rukobatik.com pusat toko batik khas pekalongan. daftarkan toko batik anda dan upload foto produk anda