Friday, November 12, 2004

Lain di phoneline lain lagi di offline.

Telepon berdering ternyata ambu menanyakan apakah sudah telepon ke Serang. Abah jawab saja belum karena memang belum kok. Mana kepala laleleng lalieur. Sejujurnya saja dong abah mah klo belum ya bilang belum. Masa boong di bulan puasa?
“Nanti deh jam 11an abah periksa. Sekarang kan baru juga juga jam 9 liwat.”
“Sekarang sudah jam 1130 bah. Klo sudah transfer lalu ke BRI. Biasanya kas tutup jam 12.” Lalu telepon ditutup. Ketika terlirik jam dinding hari malahan sudah jam 1230. Abah lalu menelepon ke Serang. Kata petugasnya nomor urut 88 sudah ditransfer. Lalu menelepon BRI Cimone, katanya kas tutup jam 15. Lalu minta notel Malabar. Jawabannya juga sama sama kas tutup jam 15. Tenang saja masih ada banyak waktu. Bersama Ade berdua nekroh menyusuri padatnya jalan di lokasi pasar tumpah. Namun begitu jam 1405 sampai ke Malabar, pintu kantor unit sudah tutup. Terlirik ada silhot banyak orang di dalam ruangan. Lalu abah ketuk saja pintunya. “Bapak sudah punya nomor antri?” Sapa seorang lelaki seumuran denganku. “Belum. Kan nomornya diambilnya didalam ruangan.”
“Klo begitu bapak tak bisa dilayani. Besok saja pagi pagi pak.”
“Tadi saya nelepon kata petugas kas buka sampai jam 15.” Tawaku.
“Iya pak tapi bagi yang sudah ambil nomor. Maklum saja namanya bank pemerintah.”
“Iya juga sih. Mana bulan Puasa. Namanya juga yanmas. Kapan tutup pintunya pak?”
“Belum lima menit pak.” Kekehnya dengan ompongnya. Walah tob juga nih orang. Akhirnya kami beranjak pulang. Tamba ngosong Ade membeli 4 kuwe lupis dan 6 serabi buat nanti berbuka puasa sekedar pengobat hati ambu. Lebih dari cukup buat bertiga.

No comments: