Sunday, October 24, 2004

Sawah abah mah munsun fuso ngijih fuso.

Di Ramadhan 1425H ini apa enaknya menjadi mantri perairan? Makanya untung abah gak menjadi mantri perairan. Meskipun ambu gak jadi kasebut ibu menteri kacaian juga. Kapan baru dilantik saja langsung berhadapan sama masalah air. Di Semarang saja sudah 62 Desa yang kekeringan susah air. Padahal masalah air itu sambung menyambung menjadi satu tentunya bisa berkembang menjadi masalah regional. Kalau buat minum saja susah gimana klo buat keperluan MCK coba. Nanti dimusim hujan suasana menjadi berubah total. Regional menjadi basah kalebuh banjir dimana mana. Itu baru masalah dari alam. Karena siapa juga yang mampu bersaing melawan alam. Kita bisanya memanfaatkan teknologi buat sebesar besar kesejahteraan manusia Indonesia. Belum lagi masalah yang ditimbulkan oleh bukan hanya alam. Walah musti bagaimana mengomongnya ya? Masak sih kudu sembari nyebut amit amit segala? Karena kerusakan sumber daya alam dan lingkungan kapan penyebab terbesarnya juga karena bukan hanya alam? Makanya sudah aksioma sawah dimusim kering pada fuso dimusim hujan sama fusonya. Ayam dilumbung hujan pada kena tetelo, itik disungai kering pada mati kehausan. Pada ngarti nggak sih? Enggak yaaa?. Sama dooong, abah juga nggak mengerti tuh. Karena yang namanya bukan hanya alam itu kapan sudah pada punya rekening bank gitu. Segala bumi gunung hutan serta lautan. Mana kenal rekening koran timbunan kekayaan. Tapi kalau kata si Kabayan mah, justru disitulah seni main congkelaknya mantri perairan. Walah Kabayan. Klo begitu mah bukan kerjaannya mantri tapi tangkulak air saja dong. Ambuuu jam berapa ini? Sudah pada sahur belum? Siabah mengimpi lagi yaaa?

No comments: